
SURABAYA, 27 NOVEMBER 2025 – Ketua Umum Kadin Jawa Timur Adik Dwi Putranto menegaskan bahwa Jawa Timur (Jatim) memasuki tahun 2026 dengan fundamental ekonomi solid dan momentum pertumbuhan semakin menguat.
Kadin Jatim memprediksi Pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Jatim bakal mencapai 5,3%, sejalan dengan proyeksi Bank Indonesia untuk ekonomi nasional di rentang 4,9%–5,7%.
“Pertumbuhan ini didukung oleh konsumsi domestik yang solid, investasi yang meningkat, serta kinerja ekspor yang membaik. Grafik pertumbuhan riil PDRB Jawa Timur 2019–2026 menunjukkan tahun 2020 mengalami kontraksi akibat pandemi, namun pemulihan berlanjut hingga proyeksi 2026 mendekati level pra-pandemi,” kata Adik Dwi Putranto di Surabaya, Kamis (27/11/2025).
Inflasi diperkirakan tetap stabil di kisaran 2%–3%, menjaga daya beli masyarakat tetap kuat. Meski demikian, potensi kenaikan harga komoditas pangan menjelang hari raya akan tetap diwaspadai, misalnya harga telur, minyak goreng, dan tarif angkutan yang historis melonjak saat Nataru.
“Secara keseluruhan, inflasi Jatim 2026 diyakini terkendali dan tidak menjadi ancaman terhadap daya beli masyarakat,” lanjutnya.
Sementara realisasi investasi juga diharapkan melampaui capaian 2025, seiring berlanjutnya berbagai Proyek Strategis Nasional serta kemudahan perizinan yang semakin baik.
Adik menegaskan, dengan berlanjutnya proyek strategis nasional di wilayah Jatim, misal pembangunan infrastruktur jalan tol, kawasan industri baru, hilirisasi smelter, serta gencarnya promosi investasi oleh Pemprov, diperkirakan mendorong realisasi investasi kian meningkat di 2026. Investasi pada sektor manufaktur khususnya menjadi motor penting.
“Dengan berbagai kemudahan perizinan dan insentif yang disediakan, tren investasi 2026 diproyeksikan naik moderat melampaui capaian 2025, menopang ekspansi kapasitas produksi dan penciptaan lapangan kerja baru,” tukasnya.
Di sektor perdagangan luar negeri, kata Adik, ekspor Jawa Timur diperkirakan tumbuh positif pada 2026. Pemulihan negara mitra dagang utama dan manfaat hilirisasi akan menjadi pendorong utama, meskipun impor diproyeksikan ikut meningkat seiring aktivitas industri.
“Sepanjang 2025, ekspor barang dan jasa tumbuh 6,9–7,2 persen, menjadikannya salah satu komponen pendorong pertumbuhan terbesar dari sisi permintaan. Jawa Timur juga mempertahankan posisinya sebagai pengekspor perikanan terbesar nasional, dengan komoditas utama seperti udang dan tuna,” ujarnya.
Komoditas ekspor andalan Jatim cukup beragam, mulai hasil manufaktur (seperti produk olahan makanan, bahan kimia, tekstil, hingga produk logam) hingga hasil pertanian dan perikanan. Bahkan, Jawa Timur tercatat pengekspor perikanan terbesar nasional – pada 2022 ekspor perikanan Jatim mencapai 381 ribu ton (tertinggi se-Indonesia) dengan komoditas unggulan udang (84,6 ribu ton) dan ikan tuna (54,2 ribu ton).
Investasi menjadi salah satu pilar penting pertumbuhan 2026. Pada Semester I-2025 saja, realisasi investasi telah mencapai Rp74,6 triliun dan tumbuh 4,1% (yoy).
Dengan kontribusi investasi Jatim mencapai 7,9% terhadap total nasional, provinsi ini konsisten menjadi salah satu tujuan utama penanaman modal. Pembangunan infrastruktur, perluasan kawasan industri, dan proyek hilirisasi diperkirakan semakin memperkuat tren tersebut di 2026.
Dari sisi ketenagakerjaan, kondisi diperkirakan tetap stabil. Dengan pertumbuhan ekonomi di atas 5%, TPT berpotensi terjaga di kisaran 3,5%–4%. Tantangan yang perlu diperhatikan adalah peningkatan kualitas SDM, karena tingkat pengangguran masih relatif tinggi pada lulusan SMK dan perguruan tinggi.
Untuk itu, penguatan link-and-match antara pendidikan vokasi dan kebutuhan industri menjadi fokus strategis agar pertumbuhan ekonomi di 2026 benar-benar inklusif dan mampu menyerap tenaga kerja secara optimal.
“Secara keseluruhan, tren positif yang terlihat dalam tiga tahun terakhir menunjukkan Jawa Timur berada pada jalur yang tepat menuju 2026. Fondasi ekonomi yang kuat, kinerja konsumsi yang stabil, stabilitas harga yang terjaga, penurunan kemiskinan yang berkelanjutan, dan aliran investasi yang meningkat menjadi modal utama dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif, berkualitas, dan berkelanjutan,” pungkasnya.
Baca Berita Menarik Lainnya di Google News
