Jatim Siaga Cuaca Ekstrem, Wagub Emil Cek Kendali Banjir BBWS Brantas

SURABAYA, 7 JANUARI 2026 – Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak meninjau langsung Command Center Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas di Surabaya, Selasa (6/1/2026). Kunjungan ini untuk memastikan kesiapan Jawa Timur menghadapi potensi curah hujan ekstrem yang diperkirakan terjadi sepanjang Januari.

BBWS Brantas memiliki peran strategis dalam pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS) Brantas yang membentang di 19 kabupaten/kota di Jawa Timur.

Kunjungan tersebut dilakukan sebagai langkah antisipatif menyusul peringatan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terkait tingginya intensitas hujan di sejumlah wilayah.

“Memasuki Januari, kondisi cuaca memang rawan. Ibu Gubernur bersama BMKG telah berulang kali mengingatkan potensi hujan dengan intensitas sangat tinggi,” ujar Emil.

Emil menjelaskan, Command Center BBWS Brantas dilengkapi sistem dashboard berteknologi tinggi yang memungkinkan pemantauan menyeluruh terhadap infrastruktur sumber daya air. Mulai dari kondisi bendungan, tanggul dan dinding sungai, hingga jaringan pos pantau dapat dipantau secara real time.

Dengan dukungan teknologi tersebut, pemerintah daerah dapat menyusun langkah pencegahan dan penanganan yang lebih terukur. Salah satu instrumen pendukungnya adalah SITABA (Sistem Informasi Tanggap Bencana), platform digital milik Kementerian Pekerjaan Umum yang menyajikan data historis bencana secara detail.

“Data bencana masa lalu menjadi dasar penting untuk melakukan proyeksi risiko ke depan. Dengan begitu, sistem di BBWS dan Command Center BPBD bisa saling melengkapi dan memberikan dukungan yang lebih optimal,” tegasnya.

Selain penguatan sistem pemantauan, Emil juga memaparkan sejumlah proyek strategis pengendalian banjir dan mitigasi bencana yang tengah berjalan.

Di antaranya National Urban Flood Resilience Project (NUFReP) yang didanai Asian Development Bank (ADB) dan saat ini difokuskan di Surabaya serta Malang, dengan harapan dapat diperluas ke kawasan Surabaya Raya.

Program lainnya adalah Volcanic Risk Reduction Program yang didukung Japan International Cooperation Agency (JICA) untuk penanganan sedimen di wilayah Lumajang. Selain itu, pemerintah juga mendorong percepatan pembangunan Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) melalui Instruksi Presiden Nomor 2 Tahun 2025.

“Ke depan, akan tersedia sumur dengan kapasitas di atas 10 hingga 20 liter per detik yang tersebar di sekitar 70 titik di Jawa Timur,” jelas Emil.

Saat ini, BBWS Brantas masih memprioritaskan normalisasi dan penguatan di Kali Kedurus, Surabaya. Koordinasi intensif juga dilakukan bersama Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi untuk penanganan banjir di kawasan Ketintang.

Di wilayah tersebut, rencananya akan dibangun pompa pengendali banjir di sisi sungai. Namun, terdapat sejumlah bangunan yang perlu ditertibkan karena berada di area yang tidak semestinya.

“Kami tetap mengedepankan pendekatan humanis. Akan ada solusi bagi warga terdampak relokasi, tetapi langkah ini harus dilakukan demi kepentingan yang lebih besar, untuk melindungi ribuan warga di kawasan tersebut,” pungkasnya.