
Teheran, Rabu 14 Januari 2026- Gelombang unjuk rasa besar-besaran yang mengguncang Iran sejak bulan lalu dilaporkan telah memakan ribuan korban jiwa
Berdasarkan laporan kantor berita Reuters, seorang pejabat Iran pada Selasa (13/1) mengungkapkan bahwa sekitar 2.000 orang tewas dalam rangkaian kerusuhan di seluruh negeri
Data serupa dirilis oleh kelompok hak asasi manusia yang berbasis di Amerika Serikat, yang mencatat jumlah korban mencapai 2.003 jiwa
Meski angka kematian terus meningkat, pemerintah Iran belum merilis data resmi secara menyeluruh. Seorang pejabat pemerintah sempat menyatakan kepada media lokal bahwa lebih dari dua pertiga korban tersebut adalah “martir”
Menanggapi situasi yang kian tidak terkendali, pemerintah Iran memperketat akses internet di berbagai wilayah. Juru bicara pemerintah, Fatemeh Mohajerani, menegaskan bahwa pembatasan ini dilakukan demi alasan keamanan dan akan tetap berlaku hingga situasi stabil. Mohajerani juga menuding Amerika Serikat dan Israel sebagai dalang di balik kekerasan yang terjadi
Di sisi lain, tekanan internasional semakin menguat, terutama dari Gedung Putih. Presiden AS Donald Trump, dalam pidatonya di Michigan, secara terbuka mendorong warga Iran untuk terus melanjutkan aksi demonstrasi
Trump mengeluarkan peringatan keras bahwa pihak-pihak yang bertanggung jawab atas kematian demonstran akan “membayar harga yang sangat mahal”. Sebagai bentuk protes diplomatik, Trump juga mengumumkan telah membatalkan seluruh agenda pertemuan dengan pejabat Iran
Terbaru, Trump akan melakukan tindakan sangat keras, jika Teheran menghukum gantung demonstran. “Saya belum mendengar soal hukuman gantung itu. Jika mereka menggantung orang-orang tersebut, anda akan melihat beberapa terjadi. Kami akan mengambil tindakan yang sangat keras jika mereka melakukan hal seperti itu,” ujarnya kepada CBS News
