
SURABAYA, 30 NOVEMBER 2025 – Memperingati Hari Anak Internasional, Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya resmi meluncurkan komitmen besar untuk melindungi anak-anak dari paparan konten digital berbahaya.
Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, menegaskan bahaya game daring bernuansa kekerasan yang dinilai dapat memengaruhi karakter dan pola pikir pelajar.
Komitmen tersebut dituangkan dalam Deklarasi Anak Surabaya Digital Aman dan penandatanganan Tri Darma Digital, Kamis (27/11/2025).
Program ini melibatkan banyak pihak, mulai dari BNN, Densus, Polri, Komnas Perlindungan Anak, hingga NGO, sebagai upaya kolektif memperketat pengawasan penggunaan media digital di kalangan pelajar.
Eri menilai game yang memuat simulasi perampokan, kekerasan, hingga perilaku berisiko seperti penyalahgunaan zat terlarang dapat memberikan dampak negatif jangka panjang.
“Permainan daring yang berbau kekerasan sangat berbahaya karena dapat mengontaminasi pola pikir dan membentuk karakter anak ke arah yang tidak baik,” ujarnya.
Ia menegaskan pentingnya menjaga potensi generasi muda Surabaya dengan mengembalikan pola pikir mereka ke arah yang positif. Perlindungan ini menyasar pelajar SD hingga SMP, dengan penekanan khusus pada peran penting orang tua.
Wali Kota Eri mengingatkan bahwa prestasi akademik harus berjalan seiring dengan kesehatan mental dan interaksi sosial anak. “Lingkungan yang baik dan suportif sangat penting agar anak tumbuh dengan karakter yang kuat,” katanya.
Menurutnya, anak yang kurang percaya diri atau sulit berkomunikasi sering kali terlalu lama belajar di rumah tanpa ruang untuk bersosialisasi.
Karena itu, Pemkot meminta sekolah melalui Dinas Pendidikan (Dispendik) menciptakan lingkungan yang mendorong interaksi sosial. Salah satunya melalui pembentukan Satgas sekolah yang beranggotakan guru Bimbingan Konseling (BK) untuk memantau perilaku dan perkembangan siswa.
Penguatan Satgas dan TPPKS di Sekolah
Kepala Dispendik Surabaya, Yusuf Masruh, menegaskan bahwa Satgas di sekolah merupakan penguatan dari Tim Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (TPPKS).
“Semakin banyak ruang bagi anak untuk curhat, semakin baik. Kita ingin memastikan mereka memiliki wadah yang tepat sehingga tidak salah memilih tempat untuk bercerita,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa sinergi antara sekolah dan orang tua menjadi kunci keberhasilan program digital aman ini. Orang tua diminta mengatur waktu istirahat, belajar, serta aktivitas digital anak secara jelas.
“Orang tua harus tahu jam pulang anak dan bekerja sama dengan sekolah dalam pengawasan. Banyak game positif dan buku elektronik edukatif yang bisa diarahkan kepada mereka,” pungkasnya.
