
SURABAYA, 14 JANUARI 2026 – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya terus memperkuat komitmen pelestarian budaya daerah. Salah satunya melalui kunjungan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Kota Surabaya ke kediaman seniman ludruk legendaris Cak Kartolo, Selasa (14/1/2026).
Kunjungan ini menjadi langkah strategis Pemkot Surabaya dalam merawat ingatan kolektif sekaligus memperkuat literasi kebudayaan, terutama bagi generasi muda agar tetap mengenal tokoh dan kesenian lokal.
Kepala Dispusip Surabaya Yusuf Masruh hadir langsung dan berdialog hangat bersama Cak Kartolo serta istrinya, Ning Tini, yang juga dikenal sebagai pelaku seni ludruk. Berbagai kisah perjalanan panjang Cak Kartolo di dunia ludruk dibahas, termasuk peluang menjadikannya sebagai bahan literasi dan edukasi budaya.
Yusuf menegaskan, kunjungan tersebut bukan sekadar silaturahmi, melainkan bagian dari proses pendokumentasian dan pengarsipan tokoh budaya Surabaya.
“Banyak jejak perjuangan seniman yang belum terdokumentasi secara sistematis, padahal memiliki nilai sejarah dan edukasi yang sangat penting,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Dispusip Surabaya juga melakukan alih media arsip pribadi Cak Kartolo, meliputi dokumen, foto, naskah, hingga rekaman pertunjukan sejak 1958 hingga 2025.
Arsip tersebut dipersiapkan untuk diusulkan sebagai bagian dari Memori Kolektif Bangsa (MKB) 2026 dan selanjutnya diarsipkan melalui Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI).
“Informasi dan dokumentasi ini akan kami usulkan sebagai Memori Kolektif Bangsa agar kiprah Cak Kartolo diakui tidak hanya secara lokal, tetapi juga nasional,” jelas Yusuf.
Menurutnya, program Memori Kolektif Bangsa merupakan upaya nasional untuk melindungi arsip penting yang merekam perjalanan sejarah dan kebudayaan Indonesia. Melalui mekanisme ini, tokoh-tokoh budaya daerah diharapkan memperoleh pengakuan dan akses publik yang lebih luas.
Selain pengarsipan, pertemuan tersebut juga dimanfaatkan untuk menggali kisah sukses Cak Kartolo yang dicintai lintas generasi. Cerita-cerita tersebut nantinya akan diolah menjadi bahan literasi kebudayaan bagi sekolah, perpustakaan, dan komunitas literasi.
“Kami ingin anak-anak Surabaya tidak hanya gemar membaca, tetapi juga mengenal tokoh budaya yang hidup dan berkarya di kota mereka sendiri,” tambahnya.
Yusuf juga menyampaikan bahwa Cak Kartolo mengapresiasi perhatian Pemkot Surabaya terhadap pelestarian ludruk. Menurutnya, Cak Kartolo menilai literasi dan budaya merupakan dua hal yang tidak terpisahkan dalam membentuk karakter generasi muda.
Melalui langkah ini, Pemkot Surabaya berharap kesenian ludruk tetap hidup dan relevan, tidak sekadar menjadi kenangan masa lalu.
Dokumentasi dan penguatan literasi kebudayaan diharapkan mampu menjembatani generasi lama dan generasi baru, sekaligus menjaga identitas budaya Surabaya di tengah dinamika zaman.
Foto : Dok. Pemkot Surabaya
