
JAKARTA, 18 JANUARI 2026 — Direktorat Jenderal Perhubungan Udara (Ditjen Hubud) Kementerian Perhubungan buka suara merespons insiden hilang kontak pesawat ATR 42-500 yang dioperasikan Indonesia Air Transport (IAT) dalam penerbangan dari Yogyakarta menuju Makassar, Sabtu (17/1/2026).
Pesawat dengan registrasi PK-THT tersebut dilaporkan kehilangan komunikasi saat melakukan pendekatan ke Bandara Sultan Hasanuddin Makassar. Ditjen Hubud menyatakan telah menerima laporan awal kejadian dan langsung mengaktifkan prosedur darurat sesuai standar keselamatan penerbangan.
Berdasarkan keterangan resmi Ditjen Perhubungan Udara, pesawat ATR 42-500 buatan tahun 2000 dengan nomor seri 611 dipiloti oleh Capt. Andy Dahananto. Pada pukul 04.23 UTC, Air Traffic Control (ATC) Makassar Area Terminal Service Center (MATSC) mengarahkan pesawat untuk melakukan pendekatan ke landasan pacu Runway 21.
Namun, dalam proses pendekatan, posisi pesawat teridentifikasi tidak berada pada jalur pendaratan yang seharusnya. ATC kemudian memberikan arahan koreksi posisi dan sejumlah instruksi lanjutan agar pesawat kembali ke jalur sesuai prosedur. Setelah arahan terakhir disampaikan, komunikasi dengan pesawat terputus atau loss contact.
Menindaklanjuti kondisi tersebut, ATC segera mendeklarasikan fase darurat DETRESFA (Distress Phase). AirNav Indonesia Cabang MATSC langsung berkoordinasi dengan Rescue Coordination Center (RCC) Basarnas Pusat, Kepolisian Resor Maros, serta instansi terkait untuk mendukung upaya pencarian dan pertolongan.
Bandar Udara Sultan Hasanuddin Makassar juga telah menyiapkan Crisis Center di Terminal Keberangkatan sebagai pusat koordinasi dan informasi. Target pencarian difokuskan di wilayah pegunungan kapur Bantimurung, Desa Leang-leang, Kabupaten Maros, yang sekaligus dijadikan posko Basarnas di sekitar lokasi.
Pencarian lanjutan direncanakan melibatkan helikopter TNI Angkatan Udara bersama Basarnas, yang dijadwalkan melakukan penerbangan pada pukul 16.25 WITA. AirNav Indonesia juga tengah menyiapkan penerbitan Notice to Airmen (NOTAM) terkait kegiatan pencarian dan pertolongan.
Ditjen Hubud melaporkan jumlah orang di dalam pesawat atau Persons on Board (POB) sebanyak 10 orang, terdiri atas 7 awak pesawat dan 3 penumpang.
Informasi awal cuaca di sekitar lokasi kejadian menunjukkan jarak pandang sekitar 8 kilometer dengan kondisi sedikit berawan. Namun, detail kondisi cuaca masih terus dikoordinasikan dengan BMKG.
Direktorat Jenderal Perhubungan Udara menegaskan terus melakukan koordinasi intensif melalui Kantor Otoritas Bandar Udara Wilayah V Makassar bersama AirNav Indonesia, Basarnas, operator penerbangan, TNI AU, dan instansi terkait lainnya untuk memantau perkembangan dan memastikan seluruh langkah penanganan berjalan optimal.
Selain itu, Ditjen Hubud mengimbau seluruh operator penerbangan untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap dinamika cuaca, melakukan perencanaan penerbangan secara maksimal, serta mematuhi ketentuan cuaca minimum pada tahap dispatch, take off, dan landing sesuai SOP.
Operator juga diminta mengimplementasikan ALAR (Approach and Landing Accident Reduction) Toolkit guna meminimalkan risiko insiden, khususnya pada fase pendekatan dan pendaratan di wilayah pegunungan atau cuaca buruk.
Ditjen Hubud memastikan akan menyampaikan pembaruan informasi secara berkala sesuai perkembangan resmi di lapangan.
